UAS RISET SDM Pengaruh Disiplin Kerja, motivasi kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada The BALAVA hotel Malang



BAB I 
PENDAHULUAN

1.1  Belakang
Dalam menjalankan usaha banyak sekali aspek penunjang yang mendukung berjalannya suatu perusahaan antara lain adalah karyawan (Sumber Daya Manusia),  peralatan kerja, lingkungan kerja, motivasi dan lain-lain. Hal-hal tersebut perlu sekali diperhatikan agar pencapaian tujuan dalam perusahaan dapat berjalan dengan baik. Keberadaan sumber daya manusia di dalam suatu perusahaan memegang peranan penting. Tenaga kerja memiliki potensi yang besar untuk menjalankan aktivitas perusahaan. Potensi setiap sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga mampu memberikan output optimal.
Jika perusahaan ingin mendapatkan kinerja yang maksimal, maka perusahaan harus memperhatikan faktor motivasi. Pegawai dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal antara lain ditentukan oleh motivasi yang mendorong pegawai bekerja dengan tekun, serta disiplin yang diterapkan seperti datang tepat waktu, absensi secara rutin dan teratur sehingga dapat tercapai tujuan perusahaan dibawah kepemimpinan yang dapat menciptakan suasana kondusif terhadap lingkungan kerja tersebut. Victor H Vroom dan Gery Dessler, 1997 (dikutip oleh Arrizal, 1999). Mengatakan bahwa orang-orang biasanya termotivasi atau terdorong untk bekerja pada suatu jabatan tertentu yang mereka rasa akan memperoleh imbalan. Bagi Gery Dessler pernyataan ilmiah yang dinamakan hukum motivasi. Pemahaman terhadap motivasi karyawan akan sangat penting kaitannya dengan pencapaian tujuan, yaitu produktifitas dan efisiensi.
Motivasi kerja merupakan kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual (Robbins, 2003: 208). Motivasi berusaha mengubah diri dalam bentuk kondisi karakter atau sifat melalui proses metamorfosa secara bertahap, dari hal-hal yang tidak baik menjadi lebih baik. Perubahan karakter dalam motivasi akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Motivasi yang diberikan kepada karyawan untuk meningkatkan kinerjanya dengan cara memberikan sebuah pengakuan seperti contoh memberikan imbalan secara finansial maupun non finansial, dan karyawan tidak hanya harus dihargai, melainkan juga harus merasa dipercaya. Karena karyawan yang merasa dipercaya oleh perusahaan, biasanya akan lebih bertanggung jawab. Selain itu juga atasan senantiasa mengajak karyawan untuk melakukan secara bersama untuk menghadiri acara perusahaan, dan selalu membantu para karyawan untuk menempuh jenjang karir yang menarik. Perusahaan dapat mengevaluasi atau menilai kinerja karyawan dari adanya inovasi baru tersebut.
Tidak hanya faktor motivasi saja yang perlu diperhatikan oleh perusahaan guna meningkatkan kinerja karyawan, akan tetapi lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap keadaan karyawan yang ada pada suatu perusahaan. Lingkungan kerja yang ada didalam lingkup The Balava hotel Malang. komunikasi dengan sesama rekan kerja terjalin dengan baik, baik itu atasan atapun sesama karyawan, ruang kerja didalamnya sangat nyaman karena fasilitas sudah sangat modern seperti ruang berAC, televisi, mesin printer, mesin foto copy, telepon disetiap meja karyawan untuk mempermudah komunikasi antar karyawan sehingga karyawan tidak perlu keluar kantor untuk melakukan aktivitas dan sangat menghemat waktu untuk dapat mempercepat pekerjaan yang dilakukan oleh para karyawan. Dengan memperhatikan lingkungan kerja diharapkan dapat menambah semangat dalam bekerja. Apabila semangat kerja karyawan meningkat maka otomatis produktivitas karyawan juga meningkat. Apabila hal ini dapat berjalan dengan baik maka pencapaian tujuan suatu perusahaan akan berjalan dengan baik. Jika perusahaan ingin mendapatkan kinerja yang maksimal, maka perusahaan harus bisa menciptakan suasana kerja yang kondusif. Sangat sulit menghasilkan karya terbaik di lingkungan kerja yang tidak mendukung aktivitas karyawan. Menciptakan suasana yang kondusif sangat penting dilakukan di lingkungan kerja agar bisa menghasilkan kinerja yang produktif dan inovatif. Aturan tetap harus dibuat tetapi dengan tujuan untuk menghasilkan kinerja yang berkualitas. Bukan dengan tujuan mengekang karyawan.
Lingkungan kerja diharapkan menambah semangat dalam bekerja. Apabila hal ini dapat berjalan dengan baik maka pencapaian tujuan perusahaan akan berjalan dengan baik. Lingkuangan kerja dapat mempengaruhi emosional pegawai. Jika pegawai menyenangi lingkungan kerja dimana mereka bekerja, maka pegawai tersebut akan betah di tempat kerjanya, melakukan aktivitasnya sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif.
Selain lingkungan kerja yang kondusif, pemberian kompensasi yang sesuai kepada karyawan merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan dan karyawan. Perusahaan akan mendapatkan karyawan yang bersedia bekerja dan menjalankan tugas-tugas dengan baik, sedangkan karyawan merasa pemberian kompensasi sebagai penghargaan atas kerja yang telah dilaksanakan. Hubungan tersebut akan menentukan kelangsungan hidup dan keberhasilan perusahaan. Untuk itu perusahaan harus terus dapat mengawasi, mengontrol, memperhatikan, meneliti kinerja karyawan agar dapat mengetahui perkembangan perusahaan.
Salah satu fenomena yang muncul dewasa ini adalah adanya kebijakan pemberian kompensasi yang cenderung masih belum sepenuhnya sesuai dengan harapan pegawai, sedangkan kompensasi itu sendiri adalah merupakan salah satu faktor untuk mendorong pegawai agar memiiki kinerja yang tinggi. Kompensasi itu terbagi menjadi dua, terdapat kopensasi finansial langsung dan kompensasi finansial tidak langsung.  Kompensasi finansial langsung terdiri dari gaji, uang transport, tunjangan hari raya (THR), uang lembur dan tunjangan langsung lainnya. Sedangkan kompensasi finansial tidak langsung terdiri dari promosi jabatan, asuransi, tunjangan jabatan dan mutasi. Pemberian kompensasi kepada karyawan harus selalu mempertimbangkan usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan karyawan.
Sistem kompensasi yang dirancang oleh suatu perusahaan harus mampu memacu kinerja karyawan agar berprestasi pada tingkat yang tinggi. Karyawan akan mendapat kompensasi berupa penghargaan dalam bentuk uang ataupun dalam bentuk penghargaan lainnya. Disetiap pekerjaan yang dilakukan karyawan berhasil, seperti contoh dapat melakukan transaksi dengan customer (melakukan penjualan) Nilai atau jumlah kompensasi yang didapat oleh karyawan tergantung besar kecilnya transaksi atau penjualan yang dilakukan karyawan. Untuk itu kompensasi yang dibentuk oleh perusahaan harus memiliki nilai dimata karyawannya. Sistem kompensasi yang dibuat harus bertujuan untuk mempertahankan karyawan yang ada terutama karyawan yang berkualitas agar mereka betah bekerja dan tidak tertarik untuk pindah ke organisasi yang lainnya.
Keterkaitan kompensasi dengan kinerja sangatlah signifikan. Semakin tinggi kompensasi semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan; Cateris Paribus. Derajat kepuasan yang semakin tinggi akan semakin meningkatkan motivasi karyawan dalam meraih kinerja yang tinggi. Jika dikelola dengan baik, kompensasi membantu perusahaan untuk mencapai tujuan dalam memperoleh, memelihara, dan menjaga karyawan dengan optimum. Sebaliknya tanpa kompensasi yang cukup, karyawan yang ada tidak saja mengekspresikan diri mereka dalam bentuk protes keras dan mogok kerja, tidak tetib pada waktu jam kerja tetapi juga sangat mungkin meninggalakan perusahaan.
Bagi perusahaan, penelitian kinerja sangat berguna untuk menilai kuantitas, kualitas, efisiensi perubahan, motivasi para karyawan serta melakukan pengawasan dan perbaikan. Kinerja karyawan yang optimal sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan ini. Setiap perusahaan tidak akan pernah luput dari hal pemberian balas jasa atau kompensasi yang merupakan salah satu masalah penting dalam menciptakan motivasi kerja karyawan, karena untuk meningkatkan kinerja karyawan dibutuhkan pemenuhan kompensasi untuk mendukung motivasi para karyawan. Dengan terbentuknya motivasi yang kuat, maka akan dapat membuahkan hasil atau kinerja yang baik sekaligus berkualitas dari pekerjaan yang dilaksanakannya.
Selain itu lingkungan kerja di kantor dan lapangan atau lokasi proyek memiliki karakter yang jauh berbeda. Oleh karena itu The Balava hotel Malang merasa perlu memberi perhatian khusus dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, pemberian kompensasi yang adil bagi karyawan di kantor maupun di lokasi proyek untuk mendukung motivasi karyawan. Dengan terbentuknya motivasi yang kuat, maka akan membuahkan hasil atau kinerja yang baik sekaligus berkualitas dari pekerjaan yang dilaksanakannya. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Disiplin Kerja, motivasi kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada The BALAVA hotel Malang



1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Apakah terdapat pengaruh disiplin kerja secara parsial terhadap kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang
b.      Apakah terdapat pengaruh motivasi kerja secara parsial terhadap kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang
c.       Apakah terdapat pengaruh secara simultan antara disiplin kerja dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang


1.3  Batasan Masalah
             Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang akan diteliti, maka diperlukan pembatasan masalah agar pembahasannya tidak meluas dari masalah  yang akan diteliti dan dalam pemecahan masalah dapat lebih terarah. Adapun variable-variabel yang dapat mempengaruhi kinerja banyak sekali seperti variable motivasi dan etos kerja, kompensasi, pemberian insentif, lingkungan kerja, disiplin kerja, fasilitas kantor, kemampuan, ketrampilan kerja dan lain-lain. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi pada variable disiplin kerja, motivasi kerja yang diduga dapat mempengaruhi kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang.
1.4  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat di  tetapkan tujuan dari penelitian ini adalah :
1)      Untuk mengetahui pengaruh secara parsial disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang
2)      Untuk mengetahui pengaruh secara parsial motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang
1.5  Untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel disiplin kerja dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang
1.6   Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini peneliti berharap dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak, antara lain :
a.       Bagi Peneliti
1)      Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman di dunia kerja yang sesungguhnya dan sebagai gambaran dimana teori-teori yang penulis terima dibangku kuliah bila diterapkan di lapangan atau perusahaan.
2)      Untuk mengetahui sejauh mana teori-teori yang telah didapat selama perkuliahan bisa diterapkan khususnya dalam bidang Manajemen Sumberdaya Manusia.
3)      Dapat menambah pengetahuan dan wacana dalam mengembangkan kemampuan penulis dalam mengamati permasalahan serta membantu memberikan sumbangan pikiran bagi perusahaan atau instansi.
b.      Bagi The Balava Hotel Malang
1)   Sebagai bahan pelengkap dan pembanding terhadap penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
2)   Membantu proses belajar mengajar dan sebagai bahan pertimbangan dalam  mengangkat masalah yang sama beserta pemecahannya serta memperkaya temuan-temuan yang ada.
3)   Menambah khasanah bacaan ilmiah bagi mahasiswa juga bagi penelitian lanjutan.
c.       Bagi Perusahaan
1)      Dapat memberikan informasi yang berharga bagi pihak The Balava hotel Malang dalam pengelolaan SDM beserta segala kebijakan yang berkaitan langsung dengan aspek-aspek SDM secara lebih baik.
2)      Dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak The Balava hotel Malang agar lebih meningkatkan kedisiplinan, memberikan motivasi kepada karyawan sehingga bisa memberikan semangat baru dan inspirasi untuk meningkatkan kinerjanya, guna mencapai tujuan yang diharapkan.
d.      Bagi Pihak Lain
1)      Dapat memberikan informasi yang berguna bagi orang yang berkepentingan dalam bidang sumber daya manusia, khususnya yang berkaitan dengan masalah kinerja karyawan.
2)      Dapat digunakan sebagai bahan refrensi bagi peneliti berikutnya dan menindak lanjuti dengan penelitian baru.





















BAB II
Tinjauan Pustaka dan Hipotesis
2.1  Landasan Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu berguna untuk mendapatkan gambaran dan kerangka berfikir penelitian sekaligus dapat menjadi acuan metode analisis yang kemungkinan diperguanakan dalam penelitian ini.
Pada penelitian pertama dilakukan oleh Agung Setiawan (2013) dengan judul “Pengaruh Disiplin Kerja Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada Rumah sakit Umum Daerah Kanjuruhan Malang”.Penelitian ini dilakukan tepatnya dilokasi rumah sakit umum daerah Kanjuruhan Malang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh disiplin kerja karyawan dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan baik secara simultan dan parsial pada RSUD Kanjuruhan Malang.Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel dependen yaitu Kinerja karyawan (Y) sedangkan variabel independennya adalah Disiplin kerja (X1) dan Motivasi (X2). Untuk metode pengumpulan data itu sendiri yaitu melalui observasi, wawancara dan kuisioner dengan alat analisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Yang menjadi sampel penelitian adalah seluruh karyawan rumah sakit umum daerah Kanjuruhan Malang .Dengan sampel 55 orang berdasarkan pada teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah random sampling.Dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan verifikatif. Hasil penelitian diperoleh bahwa disiplin kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja, sedangkan motivasi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan rumah sakit umum daerah kanjuruhan Malang
Penelitian kedua oleh Suprayitno (2014) dengan mengambil judul “Pengaruh Disiplin kerja, Lingkungan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan dinas kebersihan dan tata kota DPU dan LLAJ kabupaten Karanganyar”.Penelitian ini dilakukan tepatnya di lokasi sub dinas kebersihan dan tata kota DPU dan LLAJ kabupaten Karanganyar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh disiplin kerja, lingkungan kerja, dan motivasi kerja karyawan baik secara simultan dan parsial terhadap kepuasan kerja dan kinerja pegawai. Populasi dalam penelitian ini yaitu karyawan sub dinas kebersihan dan tata kota DPU dan LLAJ kabupaten Karanganyar sebanyak 200 orang.Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel (X1) Disiplin kerja, (X2) Lingkungan kerja, (3) Motivasi sedangkan (Y) yaitu kinerja.Dengan menggunakan metode pengumpulan data melalui angket, wawancara dan dokumentasi. Data yang diambil menggunakan metode Propotional stratified random sampling, yaitu suatu metode pemilihan ukuran sampel dimana masing-masing struktur di ambil 20%. Hasil penelitian menunjukan bahwa disiplin kerja, lingkungan kerja, dan motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan pada Sub dinas kebersihan dan tata kota Dinas Pekerjaan Umum dan Lalu Lintas Angkutan Jalan kabupaten Karanganyar.
Penelitian ketiga yang berhubungan dengan penulisan penelitian adalah Nur Pusptasari, jurusan manajemen STIE ASIA Malang (2014) yang berjudul “ Pengaruh Disiplin Kerja dan Lingkungan Kerja Non Fisik Terhadap Kinerja Karyawan Pada Bagian Produksi PT. Usaha Tani Maju Kediri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh disiplin kerja dan lingkungan kerja non fisik terhadap kinerja karyawan secara parsial maupun simultan. Dalam penelitian ini variable independen terdiri dari disiplin kerja (X1) dan lingkungan kerja (X2), sedangkan variable dependennya adlah kinerja karyawan (Y). alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas yang menggunakan teknik korelasi Product Moment, uji realibilitas dan uji heteroskedastisitas, analisis regresi linier berganda teknik pengambilan sample menggunakan sampling jenuh (sensus) atau penelitian populasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya maka kesimpulan bahwa variabel disiplin kerja dan lingkungan kerja non fisik berpengaruh secara parsial (uji t) terhadap kinerja karyawan PT. Usaha Tani Maju Kediri. Variabel disiplin kerja dan lingkungan kerja non fisik berpengaruh secara simultan (uji f) terhadap kinerja karyawan PT. Usaha Tani Maju Kediri. Hasil uji koefisien determinasi R2 dapat disimpulkan bahwa variable disiplin kerja dan lingkungan kerja non fisik memberikan pengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT. Usaha Tani Maju Kediri.
Penelitian keempat yang berhubungan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Rika Widyaningtyas, Universitas Negeri Yogyakarta Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen (2016) yang berjudul “ Pengaruh Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. Macanan Jaya Cemerlang Klaten). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) Pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawn PT. Macanan Jaya Cemerlang Klaten, 2) Pengaruh motvasi kerja terhadap kinerja PT. Macanan Jaya Cemerlang Klaten, 3) Pengaruh disiplinkerja dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan PT. Macanan Jaya Cemerlang Klaten. Dalam penelitian ini variable independen terdiri dari disiplin kerja (X1), motivasi Kerja (X2) dan variabel dependen kinerja karyawan (Y). penelitian ini merupakan penelitian survey dengan pendekatan kuantitatif, dengan jumlah sampel 120 orang karyawan, dengan teknik pengambilan sampel proposional random sampling pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menemukan bahwa displin kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan sebesar (ß) 0,123(**p<0,001;p=0,002). Motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan sebesar (ß) 0,302(**p<0,001;p=0,000. Disiplin kerja dan motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT. macanan Jaya Cemerlang Klaten yang ditunjukkan dari hasil uji regresi bahwa disiplin kerja (ß) 0,169(**p<0.05;p=0,0008) dan motivasi kerja (ß) -0,279 (**p<0,001; p=0,000) kontribusi disiplin kerja dan motivasi kerja untuk menjelaskan kinerja karyawan sebesar 9,5%. Kata Kunci : Kinerja karyawan, Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja.










1.      Maping penelitian terdahulu berupa table :
Tabel 1
Tabulasi Penelitian Empiris
Jenis perbedaan /Persamaan

Penelitian
I

Penelitian II

Penelitian III

Penelitian IV
Judul Penelitian
Pengaruh Disiplin Kerja Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada Rumah sakit Umum Daerah Kanjuruhan Malang
Pengaruh Disiplin kerja, Lingkungan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan  dinas kebersihan dan tata kota DPU dan LLAJ kabupaten Karanganyar
Pengaruh Disiplin Kerja dan Lingkungan Kerja Non Fisik Terhadap Kinerja Karyawan Pada Bagian Produksi PT. Usaha Tani Maju Kediri
Pengaruh Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. Macanan Jaya Cemerlang Klaten









































Tabel Lanjutan
Jenis perbedaan /Persamaan

Penelitian I

Penelitian II

Penelitian III

Penelitian IV
Tahun Penelitian
2013
2014
2014
2016
Nama Peneliti
Agung Setiawan, Universitas Negri Surabaya
Suprayitno, Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Nur Pusptasari, jurusan manajemen STIE ASIA Malang
Rika Widyaningtyas, Universitas Negeri Yogyakarta
Tujuan
Untuk mengetahui Pengaruh Disiplin Kerja Dan Motivasi Terhad ap Kinerja Karyawan Pada Rumahsakit Umum Daerah Kanjuruhan Malang.
Untuk mengetahui pengaruh Disiplin kerja, Lingkungan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan  dinas kebersihan dan tata kota DPU dan LLAJ kabupaten Karanganyar
untuk menganalisis pengaruh disiplin kerja dan lingkungan kerja non fisik terhadap kinerja karyawan secara parsial maupun simultan
untuk mengetahui : 1) Pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawn PT. Macanan Jaya Cemerlang Klaten, 2) Pengaruh motvasi kerja terhadap kinerja PT. Macanan Jaya Cemerlang Klaten, 3) Pengaruh disiplinkerja dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan PT. Macanan Jaya Cemerlang


Tabel Lanjutan
Jenis perbedaan /Persamaan

Penelitian I

Penelitian III

Penelitian IV

Penelitian V
Variabel yang diteliti
Variabel dependen (Y) : Kinerja karyawan, Variabel Independen Disiplin kerja (X1) dan  Motivasi (X2)
Variabel dependen (Y) : Kinerja karyawan, Variabel Independen (X) : Disiplin kerja (X1),Lingkungan kerja (X2)
variable independen terdiri dari disiplin kerja (X1) dan lingkungan kerja (X2), sedangkan variable dependennya adlah kinerja karyawan (Y)
variable independen terdiri dari disiplin kerja (X1), motivasi Kerja (X2) dan variabel dependen kinerja karyawan (Y)
Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Daerah Kanjuruhan Malang
Sub Dinas Kebersihandan Tata Kota DPU dan LLAJ KabupatenKaranganyar
PT. Usaha Tani Maju Kediri
PT. Macanan Jaya Cemerlang Klaten
Sumber data
Data Primer
Data Sekunder
Data Primer
Data Sekunder
Data Primer
Data Sekunder
Data Primer
Data Sekunder
Metode Pengumpulan Data dan Alat Analisis
Observasi, Wawancara Dan Kuisioner.
Alat Analisis, Analisis Regresi Linier Berganda
Angket, Wawancara Dan Dokumentasi.
Analisis Regresi Linier Berganda
 kuesioner  analisis regresi berganda

Tabel Lanjutan
Jenis perbedaan /Persamaan

Penelitian I

Penelitian III

Penelitian IV

Penelitian V
Teknik Pengambilan Sampel
Random Sampling
Proportional Sratified Random Sampling
sampling jenuh (sensus) populasi
proposional random sampling
Hasil Penelitian
Disiplin Kerja Tidak Berpengaruh Terhadap Kinerja, Sedangkan Moti vasi Berpengaruh Positif Terhadap Kinerja Karyawan Rumah Sakit Umum Daerah Kanjuruhan Malang.
Disiplin Kerja, Lingkungan Kerja Dan Motivasi Berpengaruh Positif Terhadap Kinerja Karyawan Pada Sub Dinas Dan Tata Kota DPU Dan LLAJ Kabupaten Karanganyar.
Dari nilai R2 dapat disimpulkan bahwa variable disiplin kerja dan lingkungan kerja non fisik memberikan pengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Usaha Tani Maju Kediri
Disiplin kerja dan motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT. macanan Jaya Cemerlang Klaten yang ditunjukkan dari hasil uji regresi bahwa disiplin kerja (ß) 0,169(**p<0.0
;p=0,0008) dan motivasi kerja (ß) -0,279 (**p<0,001; p=0,000) kontribusi disiplin kerja dan motivasi kerja untuk menjelaskan kinerja karyawan sebesar 9,5%




















a  

2.2  Landasan Teori
Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa kajian teori yang relevan dan menjadi dasar pendukung penelitian. Teori dan konsep yang dipaparkan adalah  disiplin kerja, lingkungan kerja Terhadap kinerja karyawan pada Wearnes Education Center Malang.
2.3  Grand Teori Manajemen Sumber Daya Manusia
a.       Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Sebelum memberikan pengertian tentang Manajemen Sumber Daya Manusia alangkah baiknya apabila diketahui terlebih dahulu pengertian Manajemen dan Sumber Daya Manusia itu sendiri. Dalam pendapat beberapa ahli, Manajemen diartikan sebagai ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.
Sumber daya adalah segala sesuatu yang merupakan assets perusahaan untuk mencapai tujuannya. Sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat dikategorikan atas empat tipa sumber daya, seperti Finansial, Fisik, Manuisa dan Kemampuan Teknologi. Hal ini penting untuk diketahui, karena akan bias membedakan dengan pengertian yang sama dengan pengertian manajemen sumber daya manusia, yaitu administrasi kepegawaian atau juga manajemen kepegawaian.
Berikut ini adalah pengertian Manajemen Sumber Daya
Manusia (MSDM) menurut para ahli :
1)      Menurut Melayu SP. Hasibuan.
MSDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
2)      Menurut Henry Simamora
MSDM adalah sebagai pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balasan jasa dan pengelolaan terhadap individu anggota organisasi atau kelompok bekerja. MSDM juga menyangkut desain dan implementasi system perencanaan, penyusunan personalia, pengembangan karyawan, pengeloaan karir, evaluasi kerja, kompensasi karyawan dan hubungan perburuhan yang mulus.
3)      Menurut Achmad S. Rucky
MSDM adalah penerapan secara tepat dan efektif dalam proses akusis, pendayagunaan, pengemebangan dan pemeliharaan personil yang dimiliki sebuah organisasi secara efektif untuk mencapai tingkat pendayagunaan sumber daya manusia yang optimal oleh organisasi tersebut dalam mencapai tujuan-tujuannya.
2.3.1     Kinerja karyawan
a.       Pengertian Kinerja
1)      Kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu, Wirawan (2009)
2)      Kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan, Mangkunegara(2005)
3)      Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu telah disepakati bersama, Rivai dan Basri (2005).
4)      Menyatakan bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai. Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan kelompok kerja di perusahaan tersebut., Mathis dan Jackson (2006).
5)      Kinerja merupakan prestasi kerja, yaitu perbandingan antara hasil kerja dengan standar yang ditetapkan, Dessler (2000).
6)      Kinerja adalah hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan, Mangkunagara (2002).
b.      Manajemen Kinerja
Manajemen kinerja bertujuan mengembangkan sejumlah aspek kinerja. Menurut Wirawan (2009) yang perlu diperhatikan dalam manajemen kinerja, antara lain:
1)      Manajemen kinerja berupaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi atau perusahaan.
2)      Manajemen kinerja berupaya menciptakan dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi pegawai secara terus-menerus.
3)      Manajemen kinerja berupaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pencapaian tujuan.
4)      Manajemen kinerja mengukur kinerja individu karyawan, tim kerja, dan kinerja karyawan secara periodic.
c.       Perencanaan Kinerja
Menurut Wirawan (2009) perencanaan kinerja adalah pertemuan antara ternilai (appraise) dengan superiornya atau penilai (appaisor) dengan superiornya atau penilai (appraisor) antara lain:
1)      Tugas, pekerjaan, tanggung jawab ternilai, yaitu tugas atau pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh ternilai dan prosedur yang harus diikuti oleh ternilai dalam melaksanakan pekerjaannya.
2)      Kompetensi yang diperlukan ternilai agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, serta perilaku kerja dan sifat pribadi yang harus dilakukan dan dimiliki oleh ternilai agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
3)      Standard kinerja ternilai alam melaksanakan pekerjaannya dalam system MBO (Management by objectives) diformulasikan sebagai objektif, sasaran atau target kerja ternilai, pembahasan indikator kinerja dan definisi operasionalnya, serta cara pengukuran yang dilakukan oleh penilai.
4)      Menentukan cara pegawai agar mencapai kinerjanya.
5)      Proses pengukuran kerja dan instrument yang digunakan, serta waktu pelaksanaan penilai dan ternilai harus memahami teknik dan pengukuran kinerja ternilai.
6)      Merencanakan pengembangan kompetensi ternilai jika belum memiliki kompetensi tersebut sepenuhnya, jika belum mempunyai kompetensi inti yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan, penilai dilatih dan dikembangkan.
d.      Pelaksanaan Kinerja
Menurut Wirawan (2009), Pelaksanaan kinerja adalah proses sepanjang tahun di mana pegawai melaksanakan tugas atau pekerjaannya dan berupaya mencapai kinerjanya dengan cara menggunakan kompetensi kerjanya. Pelaksanaan kinerja merupakan aktivitas bersama pegawai dan manjernya. Pegawai dan manajer mempunyai tanggung jawab tertentu, antara lain:
Pegawai mempunyai tanggung jawab sebagai berikut:
a)      Komitmen pencapaian tujuan
b)      Meminta pelatihan kinerja
c)      Berkomunikasi secara terbuka dan teratur dengan manajernya
d)     Mengumpulkan dan berbagi data kinerja
Manajer penilai mempunyai tanggungjawab berikut:
a)      Menciptakan kondisi yang memotivasi karyawan
b)      Mengobservasi dan mendokumentasi kinerja pegawai
c)      Menyesuaikan dan merevisi tujuan, standard kinerja, dan kompetensi pekerjaan untuk mengkondisikan perubahan
d)     Memberikan pelatihan
e)      Menyediakan pengalaman pengembangan
f)          Memperkuat perilaku yang efektif para karyawan dan kemajuan kearah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
e.       Dimensi kinerja
Menurut Wirawan (2009:54) secara umum, dimensi kinerja dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu hasil kerja, perilaku kerja, dan sifat pribadi yang ada hubungannya dengan pekerjaan.
1)      Hasil kerja
Hasil kerja adalah hasil keluaran kerja dalam bentuk barang atau jasa yang dapat dihitung kualitas dan kuantitasnya.
2)      Perilaku kerja
Perilaku kerja adalah perilaku karyawan yang ada hubungannya dengan pekerjaan.
3)      Sifat pribadi yang ada hubungannya dengan pekerjaan
Adalah sifat pribadi karyawan yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaannya.
4)      Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja dimulai dengan pengumpulan data kinerja para pegawai sepanjang masa evaluasi kinerja. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi tentang apa yang dilakukan para karyawan.
Menurut Mitchell dalam Sedamayanti (2001) kinerja dapat diukur dengan enam primer, meliputi:
a)      Quality (kualitas)
Sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati keesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.
b)      Quantity (kuantitas)
Sejauh mana suatu jumlah atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.
c)      Time Lines (ketepatan waktu)
Sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang di kehendaki dengan memperhatikan koordinasi output serta waktu yang tersedia untuk kegiatan yan lain.
d)      Cost Effectiveness (efektivitas biaya)
Sejauh mana penerapan SDM keuangan, teknologi dan material dimaksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan SDM.
e)      Need for supervision (pengawasan)
Sejauh mana seorang pekerja melaksanakan suatu fungsi tanpa memerlukan pengawasan seorang supervision untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan.
f)        Interpersonal Import
Merupakan tingkat sejauh mana karyawan memelihara harga diri, nama baik, dan kerja sama di antara rekan kerja dan bawahan.
Dari uraian teori Kinerja yang sudah di paparkan, maka peneliti mengambil teori menurut Mitchell dalam Sedamayanti (2001) beserta indikatornya yaitu : Quality, Quantity, Time Lines, Cost Effectiveness, Need for supervision dan Interpersonal Import. Dimana indikator tersebut akan di jadikan rujukan sebagai kerangka berfikir dan pembuatan item pernyataan dalam kuesioner.
2.3.2     Motivasi
a.       Pengertian Motivasi
1)      Menurut Sardiman A.M.(2011:6 ), istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat di amati secara langsung, tetapi dapat diinterprestasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.
2)      Motivasi adalah proses pisikologis yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Perilaku hakekatnya merupakan orientasi pada satu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan proses interaksi dari beberapa unsur. Dengan demikian, Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Kekuatan-kekuatan ini pada dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti; keinginan yang hendak dipenuhinya; tingkah laku; tujuan; umpan balik. (Hamzah, 2010) .
Menurut Hamzah (2010: 73) dimensi dan indikator motivasi kerja dapat dikelompokan sebagai berikut:
Motivasi internal
1.   Tanggung jawab dalam melaksanakan tugas
2.   Melaksanakan tugas dengan target yang jelas
3.   Memiliki tujuan yang jelas dan menantang
4.   Ada umpan balik atas hasil pekerjaannya.
5.   Memiliki rasa senang dalam bekerja.
6.   Selalu berusaha mengungguli orang lain.
7.   Diutamakan prestasi dari apa yang dikerjakannya.
Motivasi eksternal
1.   Selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan kerjanya.
2.   Senang memperoleh pujian dari apa yang dikerjakannya.
3.   Bekerja dengan ingin memperoleh insentif.
4.   Bekerja dengan harapan ingin memperoleh perhatian dari teman dan atasan. 
3)      Teori Hirarki menurut A.H. Maslow (Ulber Silalahi 2002:345) menunjukan adanya lima tingkatan keinginan dan kebutuhan manusia. Kebutuhan tersebut adalah :
a)      Kebutuhan fisiologis ( physiological needs )
b)      Kebutuhan keamanan (safety needs)
c)      Kebutuhan social ( social needs )
d)     Kebutuhan penghargaan ( esteem needs )
e)      Kebutuhan aktualisasi (Self actualization needs )
Selain itu ada juga 5 teori motivasi yang berpengaruh besar dalam praktek pengembangan sumber daya manusia dalam suatu organisasi.:
1.      Teori Efek Hawthorn
Penelitian oleh Elton Mayo pada perusahaan General Electric kawasan Hawthorn di Chicago, memilki dampak pada motivasi kelompok kerja dan sikap karyawan dalam bekerja. Kontribusi hasil penelitian tersebut bagi perkembangan teori motivasi adalah:
a.       Kebutuhan dihargai sebagai manusia ternyata lebih penting dalam meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja karyawan dibandingkan dengan kondisi fiisik lingkungan kerja.
b.      Sikap karyawan dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi baik di dalam maupun diluar lingkungan tempat kerja.
c.        Kelompok informal di lingkungan kerja berperan penting dalam membentuk kebiasaan dan sikap para karyawan.
d.      Kerjasama kelompok tidak terjadi begitu saja, tetapi harus direncanakan dan dikembangkan.
2.      Teori Kebutuhan
Menurut Abraham Maslow, pada dasarnya karyawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sebagai berikut:
a.    Kebutuhan fisiologis.
b.     Kebutuhan rasa aman.
c.    Kebutuhan social.
d.   Kebutuhan harga diri.
e.    Kebutuhan aktualisasi diri.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut bersifat hierarkis, yaitu suatu kebutuhan akan timbul apabila kebutuhan dasar sebelumnya telah dipenuhi. Setelah kebutuhan fisiologis seperti pakaian, makanan dan perumahan terpenuhi, maka kebutuhan tersebut akan digantikan dengan kebutuhan rasa aman dan seterusnya. Sehingga tingkat kebutuhan seseorang akan berbeda-beda dalam bekerja. Seseorang yang kebutuhan hanya sekedar makan, maka pekerjaan apapun akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
3.      Teori X dan Y
McGregor mengemukakan dua model yang menjelaskan motivasi karyawan yang bekerja yaitu teori X dan teori Y.
Teori X menganggap bahwa:
a.       Karyawan tidak suka bekerja dan cenderung untuk menghindari kerja.
b.      Karyawan harus diawasi dengan ketat dan diancam agar mau bekerja dengan baik.
c.       Prosedur dan disiplin yang keras lebih diutamakan dalam bekerja.
d.      Uang bukan satu-satunya faktor yang memotivasi kerja.
e.       Karyawan tidak perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri.
Teori Y menganggap bahwa:
a.       Karyawan senang bekerja, sehingga pengawasan dan hukuman tidak diperlukan oleh karyawan.
b.      Karyawan akan memiliki komitmen terhadap pekerjaan dan organisasi jika merasa memuaskan.
c.       Manusia cenderung ingin belajar.
d.      Kreatifitas dan Imajinasi digunakan untuk memecahkan masalah.
4.      Teori Hygine dan Motivator
Menurut Herzberg, faktor yang menimbulkan kepuasan kerja karyawan berbeda dengan faktor yang menimbulkan ketidak-puasan kerja sebagai berikut.
Faktor Hygine meliputi :
a.       Kebijakan perusahaan dan sistem administrasinya.
b.      Sistem pengawasan.
c.       Gaya kepemimpinan.
d.      Kondisi lingkungan kerja.
e.       Hubungan antar pribadi.
f.       Gaji / upah.
g.      Status.
h.      Kesehatan dan keselamatan kerja.
Faktor Motivator meliputi :
a.       Pengakuan.
b.      Penghargaan atas prestasi.
c.       Tanggungjawab yang lebih besar.
d.      Pengembangan karir.
e.       Pengembangan diri.
f.       Minat terhadap pekerjaan.
5.      Teori Motivasi Berprestasi
David McClelland menjelaskan tentang keinginan seseorang untuk mencapai kinerja yang tinggi. Hasil penelitian tentang motivasi berprestasi menunjukkan pentingnya menetapkan target atau standar keberhasilan. Karyawan dengan ciri- ciri motivasi berprestasi yang tinggi akan memiliki keinginan bekerja yang tinggi. Karyawan lebih mementingkan kepuasan pada saat target telah tercapai dibandingkan imbalan atas kinerja tersebut. Hal ini bukan berarti mereka tidak mengharapkan imbalan, melainkan mereka menyukai tantangan.
Ada tiga macam kebutuhan yang dimiliki oleh setiap individu yaitu:
a.       Kebutuhan berprestasi (Achievement motivation) yang meliputi tanggung jawab pribadi, kebutuhan untuk mencapai prestasi, umpan balik dan mengambil risiko sedang.
b.      Kebutuhan berkuasa (Power motivation) yang meliputi persaingan, mempengaruhi orang lain.
c.       Kebutuhan berafiliasi (Affiliation motivation) yang meliputi persahabatan, kerjasama dan perasaan diterima.
Dalam lingkungan pekerjaan, ketiga macam kebutuhan tersebut saling berhubungan, karena setiap karyawan memiliki semua kebutuhan tersebut dengan kadar yang berbeda-beda. Seseorang dapat dilatihkan untuk meningkatkan salah satu dari tiga faktor kebutuhan ini. Misalnya untuk meningkatkan kebutuhan berprestasi kerja, maka karyawan dapat dipertajam tingkat kebutuhan berprestasi dengan menurunkan kebutuhan yang lain
Dari uraian teori Motivasi Kerja yang sudah di paparkan, maka peneliti mengambil teori menurut Menurut Hamzah (2010: 73) beserta indikatornya yaitu : Tanggung jawab perusahaan, Kesempatan belajar dalam bekerja, Prosedur pekerjaan, Tantangan bekerja dan Hubungan rekan kerja. Dimana indikator tersebut akan di jadikan rujukan sebagai kerangka berfikir dan pembuatan item pernyataan dalam kuesioner.
2.3.3  Disiplin Kerja
a. Pengertian
Menurut Simamora (2004:234) disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum bawahan karena melanggar peraturan atau prosedur. Disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan para manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku (Rivai, 2004:444).
Menurut bascal (2001:164) mengemukakan disiplin sebuah proses yang digunakan untuk menghadapi permasalahan kerja.
Menurut Sinungan (2003) mengemukakan Disiplin adalah kejiwaan dari seseorang atau sekelompok orang yang senantiasa berkehendak untuk mengikuti atau mematuhi segala aturan atau keputusan yang telah ditetapkan.
Menurut Zesbendri dan Aryanti, (2009 )Disiplin kerja adalah bentuk ketaatan terhadap peraturan tata tertib yang telah ditetapkan. Disiplin merupakan modal utama yang mempengaruhi tingkat kinerja karyawan
Menurut Leiden (dalam Yakub, dkk. 2014) menyatakam bahwa dengan ditegakannya disiplin maka dapat mengatasi masalah kinerja yang buruk dan memperkuat pengaruh perilaku kerja karyawan dalam kelompok atau organisasi.
Dari beberapa definisi diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa disiplin kerja adalah bentuk ketaatan terhadap peraturan yang telah ditentukan untuk menghadapi permasalahan yang sudah terjadi dan mencegah permasalah yang akan terjadi.
Setiyawan dan Waridin (2006:101), ada 5 faktor dalam penilaian disiplin kerja terhadap pemberian layanan pada masyarakat, yaitu:
1)      Kualitas kedisiplinan kerja, meliputi datang dan pulang yang tepat waktu, pemanfaatan waktu untuk pelaksanaan tugas dan kemampuan mengembangkan potensi diri berdasarkan motivasi yang positif.
2)      Kuantitas pekerjaan meliputi volume keluaran dan kontribusi.
3)      Kompensasi yang diperlukan meliputi : saran, arahan atau perbaikan.
4)      Lokasi tempat kerja atau tempat tinggal.
5)      Konservasi meliputi penghormatan terhadap aturan dengan keberanian untuk selalu melakukan pencegahan terjadinya tindakan yang bertentangan dengan aturan.
Terdapat empat perspektif daftar yang menyangkut disiplin kerja menurut Rivai (2004:444):
a)      Disiplin retributive (retributive discipline) yaitu berusaha menghukum orang yang berbuat salah.
b)      Disiplin korektif (corrective discipline) yaitu berusaha membantu karyawan mengkoreksi perilakunya yang tidak tepat.
c)      Perspektif hak-hak individu (individual right perspective) yaitu berusaha melindungi hak-hak dasar individu selama tindakantindakan disipliner.
d)     Perspektif utilitarian (utilitarian perspective) yaitu berfokus kepada penggunaan disiplin hanya pada saat konsekuensi-konsekuensi tindakan disiplin melebihi dampak-dampak negatifnya.
Rivai (2004:444) juga menyebutkan ada tiga konsep dalam pelaksanaan tindakan disipliner, yaitu:
e)      Aturan tungku panas yaitu pendekatan untuk melaksanakan tindakan disiplin.
f)         Tindakan disiplin progresif yaitu untuk memastikan bahwa terdapat hukum minimal yang tepat terhadap setiap pelanggaran.
g)      Tindakan disiplin positif yaitu dalam banyak situasi, hukuman tindakan memotivasi karyawan mengubah suatu perilaku.
6)      Indikator disiplin kerja menurut Sinungan (1995:97):
1)      Absensi
Pendataan kehadiran pegawai yang sekaligus merupakan alat untuk melihat sejauh mana pegawai itu mematuhi peraturan yang berlaku dalam perusahaan.
2)      Sikap dan perilaku
Tingkat penyesuaian diri seorang pegawai dalam melaksanakan tugas atasannya.
3)      Tanggung jawab
Hasil atau konsekuensi seorang pegawai atas tugas-tugas yang diserahkan kepadanya.
7)      Indikator disiplin kerja yang digunakan untuk mengukur disiplin kerja dalam penelitian ini adalah menurut Hasibuan (2005:110) adalah sebagai berikut :
a)      Sikap
Mental dan perilaku karyawan yang berasal dari kesadaran atau kerelaan dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas dan peraturan perusahaaan, terdiri dari:
(1)   Kehadiran berkaitan dengan keberadaan karyawan ditempat untuk bekerja.
(2)   Mampu memanfaatkan dan menggunakan perlengkapan dengan baik.
b)      Norma
Peraturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak oleh dilakukan oleh para karyawan selama dalam peruahaan dan sebagai acuan dalam bersikap, terdiri dari:
(1)   Mematuhi peraturan merupakan karyawan secara sadar mematuhi peraturan yang ditentukan perusahaan.
(2)   Mengikuti cara kerja yang ditentukan perusahaan.
a.         Tanggung Jawab
Merupakan kemampuan dalam menjalankan tugas dan peraturan dalam perusahaan. Menyelesaikan pekerjaan pada waktu yang ditentukan karyawan harus bertanggung jawab atas pekerjaannya dengan menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktu yang ditentukan perusahaan.
1)      Jenis-jenis disiplin kerja
Menurut Newstrom dalam Asmiarsih (2006) menyatakan bahwa disiplin mempunyai 3 (tiga) macam bentuk, yaitu sebagai berikut:
1)                  Disiplin Preventif
Disiplin preventif adalah tindakan SDM agar terdorong untuk menaati standar atau peraturan. Tujuan pokoknya adalah mendorong SDM agar memiliki disiplin pribadi yang tinggi, agar peran kepemimpinan tidak terlalu berat dengan pengawasan atau pemaksaan, yang dapat mematikan prakarsa dan kreativitas serta partisipasi SDM.
2)                  Disiplin Korektif
Disiplin korektif adalah tindakan dilakukan setelah terjadi pelanggaran standar atau peraturan, tindakan tersebut dimaksud untuk mencegah timbulnya pelanggaran lebih lanjut. Tindakan itu biasanya berupa hukuman tertentu yang biasa disebut sebagai tindakan disipliner, antara lain berupa peringatan, skors, pemecatan.
3)                  Disiplin Progresif
Disiplin progresif adalah tindakan disipliner berulang kali berupa hukuman yang makin berat, dengan maksud agar pihak pelanggar bisa memperbaiki diri sebelum hukuman berat dijatuhkan.
Contoh dari tindakan disiplin progresif antara lain :
(1)   Teguran secara lisan oleh atasan
(2)   Teguran tertulis
(3)   Skorsing dari pekerjaan selama beberapa hari
(4)   Diturunkan pangkatnya
(5)   Dipecat
Dari uraian teori disiplin kerja yang sudah di paparkan, maka peneliti mengambil teori menurut Sinungan (1995:97) beserta indikatornya yaitu : Absensi , Sikap dan perilaku dan Tanggung jawab. Dimana indikator tersebut akan di jadikan rujukan sebagai kerangka berfikir dan penbuatan pernyataan dalam kuesioner.

2.4   Kerangka Konseptual
Pada bagian ini akan dijelaskan kerangka penelitian dan kerangka konseptual model penelitian. Kerangka penelitian konseptual merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Berdasarkan latar belakang, tinjauan penelitian terdahulu dan landasan teoritis diatas, maka dapat dibuat kerangka konseptual penelitian sebagai berikut:






Gambar 1
Kerangka Pemikiran Penelitian

           Studi Teoritis
1.      Kinerja (Y), Mitchell dalam Sedamayanti (2001)
·         Quality
·         Quantity
·         Time Lines
·         Cost Effectiveness
·         Need for supervision
·         Interpersonal Import
2.      Motivasi  kerja (X2), Hamzah (2010: 73)
·         Tanggung jawab dalam melaksanakan tugas
·         Melaksanakan tugas dengan target yang jelas
·         Memiliki tujuan yang jelas dan menantang
·         Ada umpan balik atas hasil pekerjaannya.
·         Memiliki rasa senang dalam bekerja.
·         Selalu berusaha mengungguli orang lain.
·         Diutamakan prestasi dari apa yang dikerjakannya
3.      Disiplin kerja  (X1), Sinungan (1995:97)
·         Absensi
·         Sikap dan perilaku
·         Tanggung jawab

Kesimpulan
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Hipotesis
Hasil dan Pembahasan
Uji Hipotesis
Tujuan Penelitian
           Studi Empiris
1.      Agung Setiawan (2013)  “Pengaruh Disiplin Kerja Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada Rumahsakit Umum Daerah Kanjuruhan Malang”.
2.      Suprayitno (2014)"Pengaruh Disiplin kerja, Lingkungan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di lokasi sub dinas kebersihan dan tata kota DPU dan LLAJ kabupaten Karanganyar”.
3.       Nur Pusptasari, jurusan manajemen STIE ASIA Malang (2014)“ Pengaruh Disiplin Kerja dan Lingkungan Kerja Non Fisik Terhadap Kinerja Karyawan Pada Bagian Produksi PT. Usaha Tani Maju Kediri.
4.      Rika Widyaningtyas, Universitas Negeri Yogyakarta Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen (2016) yang berjudul “ Pengaruh Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. Macanan Jaya Cemerlang Klaten)
 




















Berdasarkan latar belakang, tinjauan penelitian terdahulu dan landasan teoritis di atas, maka dapat dibuat kerangka konseptual penelitian sebagai berikut :
                         Gambar 2
                                   Kerangka Konseptual
Disiplin Kerja
(X1)
Kinerja Karyawan
(Y)
Motivasi kerja
 (X2)
 







Keterangan :
                : Pengaruh simultan
                : Pengaruh Parsial
Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa variabel bebas (X) yang terdiri dari  Disiplin kerja (X1) dan Motivasi kerja (X2) akan mempengaruhi variabel terikat (Y) yaitu kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang secara simultan yang ditunjukkan dengan garis lurus putus-putus dan secara parsial yang ditunjukkan dengan garis lurus.

2.5   Hipotesis
Menurut Nanang Martono (2010), hipotesis dapat didefinisikan sebagai jawaban sementara yang keberadaannya harus diuji atau rangkuman kesimpulan secara teoritis yang diperoleh melalui tinjauan pustaka. Berdasarkan permasalahan yang ada, hipotesis yang diambil sebagai berikut :
H1=Di duga ada pengaruh disiplin kerja secara parsial terhadap kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang
H2=Di duga ada pengaruh Motivasi Kerja secara parsial terhadap kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang
H3=Di duga ada pengaruh disiplin kerja dan Motivasi kerja secara simultan terhadap kinerja karyawan pada The Balava hotel Malang










BAB III
Metode Penelitian

4.1  Lokasi Penelitian
Pada The Balava hotel Malang yang sejak berdiri tahun 2014, yang sekarang memiliki 1 gedung yang berada di Malang. Sedangkan kantor pusatnya sendiri ada di kota Malang. Alasan memilih lokasi penelitian ditempat tersebut adalah ingin mengetahui lebih jauh mengenai variabel-variabel yang akan diteliti dilokasi tersebut, karena perusahaan tersebut dalam tahap berkembang sehingga cukup menarik untuk diteliti.
4.2  Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain riset kausal atau sebab akibat yang berguna untuk menganalisis hubungan-hubungan antar variabel satu dengan yang lain. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat antar variabel, yaitu terdapat pengaruh antara variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi) (Sugiyono, 2011:36-37). Dalam penelitian ini yang dianalisis adalah hubungan variable disiplin kerja dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan di The Balava hotel Malang
Populasi dan Sampel
a.       Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Supriyanto&Maharani, 2013:35). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan The Balava hotel Malang sebanyak 63 orang karyawan yang di uraikan di dalam tabel 1 sebagai berikut :



No
Unit
Jumlah
1
General Manager
1
2
Manager
3
3
Accounting
20
4
Marketing
12
5
HRD
6
6
Front Office
6
7
Security
8
8
Housekepping
7
TOTAL
63
Sumber: Data dari Bagian Personalia HRD The Balava hotel Malang
b.      Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representtif (mewakili). (Sugiyono, 2009:62). Untuk penentuan jumlah sampel menurut Sugiyono (2011:68) sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini dilakukan apabila jumlah populasi kurang dari 50 orang, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian yang menggunakan sampel jenuh. Dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yaitu The Balava hotel Malang yang berada di wilayah Malang yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian, yang datanya seperti tertuang dalam tabel 1 berikut:

Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan rumus Slovin, sebagai berikut:
Dimana :
n: jumlah sampel
N: jumlah populasi
e: batas toleransi kesalahan (error tolerance)
Dengan  memiliki 63 karyawan, dan akan dilakukan survei dengan mengambil sampel 63 karyawan. Jadi sampel yang dibutuhkan adalah :
n = N / ( 1 + N e² ) =  / (1 + 63 x 0,05²) = 58,67 » 58.

4.3  Jenis Data dan Sumber Data
a.       Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yaitu dapat berupa pendapat responden yang diperoleh dengan menyebarkan kuisioner yang dikuatitatifkan agar dapat diproses menggunakan statistik. Data kuantitatif  yaitu data yang diukur dalam suatu skala numerik atau angka, Kuncoro (2003).
b.      Sumber data
1)      Data Premier
Data primer adalah sumber data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti untuk tujuan khusus memecahkan permasalahan yang sedang terjadi (Maholtra, 2004 dalam Supriyanto & Maharani, 2013:51). Dalam penelitian ini data premier yang digunakan bersumbaer dari respondan yang merupakan karyawan The Balava hotel Malang yang terdiri dari identitas responden tanggapan responden terhadap kompensasi, disiplin kerja, lingkungan kerja dan kinerja karyawan.
2)      Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri penelitiannya, seperti jumlah karyawan, struktur organisasi maupun sejarah The Balava hotel Malang. Nasution (2003:143) data sekunder diperoleh dari perusahaan yang dapat dilihat dokumentasi perusahaan, buku-buku refresi dan informasi lain yang berhubungan dengan penelitian.
4.4  Definisi Operasional Variabel
Variabel harus didefinisikan secara operasional agar lebih mudah dicari hubungannya antara satu variabel dengan lainnya dan pengukurannya. Tanpa operasionalisai variabel, peneliti akan mengalami kesulitan dalam menentukan pengukuran hubungan  antar variabel yang masih bersifat konseptual. Menurut Indriantoro dan (Supomo : 2002) Definisi Operasional Variabel adalah penentuan construct sehingga menjadi variabel yang dapat diamati dan diukur dengan menentukan hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu.
Variabel penelitian adalah sesuatu yang berbentuk apa saja ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari, sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Beberapa variabel yang termasuk dalam penelitian ini adalah antara lain :
a.       Variabel Independen (variabel bebas)
1)      Disiplin kerja (X1)
Disiplin kerja adalah membiasakan bertindak dan bersikap sesuai pada peraturan The Balava hotel Malang, yang harus dilaksanakan secara konsisten maupun terus-menerus dalam sebuah kelompok kerja The Balava hotel Malang yang akan berdampak pada kinerja yang positif pada lingkungan perusahaan tersebut.
Sinungan (1995:97) ada beberapa indikator disiplin kerja, yaitu:
a)      Absensi
Pendataan kehadiran pegawai yang sekaligus merupakan alat untuk melihat sejauh mana pegawai itu mematuhi peraturan yang berlaku dalam perusahaan.
b)      Sikap dan perilaku
Tingkat penyesuaian diri seorang pegawai dalam melaksanakan tugas atasannya.
c)      Tanggung jawab
Hasil atau konsekuensi seorang pegawai atas tugas-tugas yang diserahkan kepadanya.

Motivasi kerja (X2)
Motivasi adalah proses pisikologis yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Perilaku hakekatnya merupakan orientasi pada satu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan proses interaksi dari beberapa unsur. Dengan demikian, Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Kekuatan-kekuatan ini pada dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti; keinginan yang hendak dipenuhinya; tingkah laku; tujuan; umpan balik. (Hamzah, 2010) .
Menurut Hamzah (2010: 73) dimensi dan indikator motivasi kerja dapat dikelompokan sebagai berikut:
Motivasi internal
1.      Tanggung jawab dalam melaksanakan tugas
2.      Melaksanakan tugas dengan target yang jelas
3.      Memiliki tujuan yang jelas dan menantang
4.      Ada umpan balik atas hasil pekerjaannya.
5.      Memiliki rasa senang dalam bekerja.
6.      Selalu berusaha mengungguli orang lain.
7.      Diutamakan prestasi dari apa yang dikerjakannya.
Motivasi eksternal
1.      Selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan kerjanya.
2.      Senang memperoleh pujian dari apa yang dikerjakannya.
3.      Bekerja dengan ingin memperoleh insentif.
4.      Bekerja dengan harapan ingin memperoleh perhatian dari teman dan atasan.
2)      Kinerja (Y)
Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh kinerja (performance) karyawan, untuk itu setiap perusahaan akan berusaha untuk meningkatkan kinerja karyawan dalam mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan. Pencapaian kinerja yang optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki seorang karyawan merupakan hal yang selalu menjadi perhatian para pemimpin organisasi.
Indikator untuk mengukur kinerja karyawan secara individu ada enam indikator, yaitu (sedamayanti, 2000):
1)         Quality (kualitas)
Sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati keesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.
2)         Quantity (kuantitas)
Sejauh mana suatu jumlah atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.
3)         Time Lines (ketepatan waktu)
Sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang di kehendaki dengan memperhatikan koordinasi output serta waktu yang tersedia untuk kegiatan yan lain.
4)         Cost Effectiveness (efektivitas biaya)
Sejauh mana penerapan SDM keuangan, teknologi dan material dimaksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan SDM.
5)         Need for supervision (pengawasan)
Sejauh mana seorang pekerja melaksanakan suatu fungsi tanpa memerlukan pengawasan seorang supervision untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan.
6)         Interpersonal Import
Merupakan tingkat sejauh mana karyawan memelihara harga diri, nama baik, dan kerja sama di antara rekan kerja dan bawahan.
Definisi operasionalisasi variabel diatas dapat digambarkan seperti pada tabel 2 yang ada dibawah ini, sebagai berikut:
















Table 3
Definisi operasional variabel
No
Variabel
Indikator
Item Indikator
Skala
1
Disiplin Kerja (X1) adalah Dorongan karyawan untuk bertindak mengikuti atau mematuhi segala aturan atau keputusan yang telah ditetapkan.
1.   Absensi
2.      Sikap dan Perilaku
3.      Tanggung jawab
 (Mas’ud 2004)
·         Karyawan masuk kerja  wajib melakukan absensi
·         Karyawan harus mampu menyesuaikan diri terhadap tugas-tugas dari atasannya
·         Karyawan harus bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh atasannya.











Likert
Table lanjutan
No
Variabel
      Indikator
Item Indikator
Skala
2




























Table lanjutan
 
No
Motivasi kerja (X) adalah
sebagai bagian integral
dari industrial
dalam rangka proses
pembinaan,
pengembangan, dan
pengarahan sumber daya
manusia dalam suatu
perusahaan.




















     Variable
1.      Tanggung jawab dalam melaksanakan tugas
2.      Melaksanakan tugas dengan target yang jelas
3.      Memiliki tujuan yang jelas dan menantang
4.      Ada umpan balik atas hasil pekerjaannya.
5.      Memiliki rasa senang dalam bekerja.
6.      Selalu berusaha mengungguli orang lain.
7.      Selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan kerjanya
8.      Senang memperoleh pujian dari apa yang dikerjakannya
9.      Bekerja dengan ingin memperoleh insentif
10.  Bekerja dengan harapan ingin memperoleh
               
      indikator
  • Karyawan selalu berusaha untuk menyelesaikan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab untuk mencapai hasil yang maksimal
  • Karyawan selalu berusaha mencapai target kerja yang ditetapkan oleh perusahaan
  • Karyawan merasa tertantang untuk menyelesaikan tugas yang diberikan
  • karyawan merasa senang bila pengabdian saya selama bekerja di perusahaan ini di akui oleh atasan.
  • karyawan merasa senang bekerja di perussahaan ini

Item Indikator
Likert













































Perhatian dari teman dan atasan
 (Mas’ud 2004)
  • karyawan selalu ingin lebih baik dari karyawan lain
  • karyawan merasa bahwa dengan bekerja di perusahaan ini, kebutuhan hidup saya terpenuhi
  • atasan saya selalu memberikan pujian apabila saya menjalankan tugas pekerjaan dengan hasil yang maksimal
  • karyawan bekerja di perusahaan ini untuk mendapatkan imbalan
karyawan melakukan pekerjaan untuk mendapatkan perhatian dari teman dan atasan

No
Variabel
Indikator
Item Indikator
Skala
3
Kinerja Karyawan (Y) Kinerja adalah hasil kerja
dan sebuah proses manajemen atau suatu organisasi secara keseluruhan di mana hasil kerja harus dapat di tunjukkan secara konngkrit dan dapat di ukur.
1.      Quality
2.      Quantity
3.      Time Lines
4.      Cost Effectiveness
5.      Need for supervision
6.      Interpersonal Import.
(Mas’ud 2004)
  • karyawan mengerjakan suatu pekerjaan dengan penuh perhitungan
  • Tingkat pencapaian volume kerja yang karyawan hasilkan telah sesuai dengan harapan perusahaan
  • karyawan dapat menyelesaikan tugas yang di berikan tepat waktu
  • Teknologi sangat membantu karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan
  • Pengawasan sangat penting untuk karyawan dalam bekerja
  • karyawan sangat menjaga nama baik saya dan perusahaan
Likert
Table lanjutan
Sumber: Data diolah, 2017
Skala yang dipakai dalam penelitian ini adalah skala likert dengan m

enggunakan ukuran interval, seperti yang dikatakan Sugiyono (2010:132) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa penggunaan metode ini adalah salah satu cara yang paling sering digunakan dalam menentukan skor. Caranya adalah dengan menghadapkan responden dengan daftar pertanyaan sebagai alat untuk pengumpulan data atau informasi dari responden.Skala pengukuran atas jawaban pertanyaan – pertanyaan dengan menggunakan skala likert yang dilambangkan dari skala 1 sampai dengan 5. Pemeringkatan skala likert nampak pada tabel 3 dibawah ini:
Tabel 4
Pemeringkatan Skala Likert
No
Jawaban
Notasi
Skor
1
Sangat Tidak Setuju
STS
1
2
Tidak Setuju
TS
2
3
Cukup Setuju
CS
3
4
Setuju
S
4
5
Sangat Setuju
SS
5
                                    Sumber: Data diolah, 2016

4.5.1        Motode Pengumpulan Data
Metode dan pengumpulan data berdasarkan tekniknya melalui beberapa cara antara lain sebagai berikut :
1)      Observasi
Adalah melakukan pengamatan secara langsung ke obyek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan, Ridwan (2008:104). Dalam kegiatan adalah melihat bagaimana cara kerja karyawan The Balava hotel Malang melakukan tugasnya dengan baik.
2)      Wawancara
Wawancara adalah proses mendapatkan informasi dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya atau pewawancara dengan penjawab atau responden, dengan menggunakan alat interview guide (Supriyanto&Maharani, 2013:54). Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara kepada pimpinan dan kepala bagian personalia yang berkaitan dengan informasi jumlah karyawan, jam kerja, hari kerja, serta gambaran umum tentang The Balava hotel Malang.
3)      Kuisioner
Kuisioner adalah pernyataan terstruktur yang diisi sendiri oleh responden atau diisi oleh pewawancara yang membacakan pernyataan dan kemudian mencatat jawaban yang berikan (Sulistyo-Basuki, 2006:110).
Pernyataan yang akan diberikan pada kuesiuoner ini adalah pernyataan menyangkut fakta dan pendapat responden, sedangkan kuesioner yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner tertutup, dimana responden diminta dari sejumlah alternatif. Keuntungan bentuk tertutup ialah mudah diselesaikan, mudah dianalisis, dan mampu memberikan jangkauan jawaban.Kuisioner yang akan dibagikan oleh peneliti kepada karyawan khususnya accounting dan Marketing tentang pendapat kompensasi, disiplin kerja, dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan
4)      Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2010:274). Dokumen yang peneliti kumpulkan berupa teori-teori dari buku, studi empiris dari penelitian terdahulu, majalah, data-data dari internet, data jumlah karyawan secara keseluruhan yang ada di The Balava hotel Malang  yang diperoleh dari kepala bagian HRD.
4.5.2        Metode Analisis Data dan Uji Hipotesis
Untuk menganalisis data dalam penelitian ini digunakan metode analisis regresi linier berganda dengan alat bantu statistik SPSS for windos ver 16.0. Adapun analisis langkah-langkah yang digunakan sebagai berikut :
a.       Pengujian Validitas dan Reliabilitas
7)      Validitas
Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur betul-betul mengukur apa yang perlu diukur. Jika suatu instrumen pengukuran sudah valid (sah) berarti instrumen tersebut dapat mengukur benda dengan tepat sesuai dengan apa yang ingin diukur. Contoh timbangan hanya valid digunakan untuk mengukur berat. Namun demikian jenis timbangan yanag digunakan harus juga sesuai dengan objek yang akan ditimbang. Untuk menimbang bayi maka lebih valid menggunakan timbangan bayi dibanding timbangan orang dewasa. Meteran hanya valid digunakan untuk mengukur panjang tapi tidak akan valid jika digunakan untuk mengukur waktu.
Dalam membuat instrumen penelitian kita harus mengetahui apakah alat ukur yang akan kita gunankan dalam penelitian mampu mengukur apa yang ingin diukur. Cara yang paling umum digunakan untuk mengukur validasi instrumen adalah dengan cara mengkorelasikan antara skor yang diperoleh pada masing-masing item pertanyaan dengan skor yang totalnya. Skor total diperoleh dari hasil penjumlahan semua skor item. Skor masing-masing item haruslah berkolerasi secaara significant dengan skor totalnya.Validitas ini disebut degan validitas constrak (constract validity).Bila alat ukur sudah memiliki validitas konstrak maka sudah dapat dikatakan bahwa alat ukur tersebut sudah valid. Teknik korelasi product moment dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
         N ( ∑XY ) – ( ∑X ∑Y )
r = 
√[N - (∑)²] [N - (∑Y)²]

              Dimana : r = koefisien kolerasi
                             n = jumlah responden

8)                              Reliabilitas
Uji reliabitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang telah dirancang dalam bentuk kuisioner dapat diandalkan.
Cronbach’s Alpha biasa digunakan sebagai alat statistik untuk uji realibilitas. Rumusnya adalah sebagai berikut :
                         

                                      CA = Koefisien Cronbach’s Alpha
                                      K = banyaknya pernyataan dalam butir
                                      Sigma b kuadrat = varians butir
                                      Sigma t kuadrat = varians total
Realibilitas adalah tingkat ketepatan suatu insrtumen mengukur apa yang harus diukur. Ada tiga cara pelaksanaan untuk menguji reliabilitas suatu tes, yaitu : (1) tes tunggal (single test), (2) test ulang (test retest), dan (3) tes ekuivalen (alternate test).
4.6      Uji Asumsi Klasik
4.6.1        Uji Normalitas
Mmenurut Ghozali (2001:76) Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.Untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak dilakukan dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dan distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk garis lurus diagonal, ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonal. Dikatakan oleh Gozhali (2001:77) “jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan menggikuti garis diagonalnya”.
4.6.2        Uji Multikolinieritas
Menurut Gozhali (2001:56) dimaksudkan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya kolerasi antara variabel bebas.Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi antara variabel bebas, jika vaariabel bebas saling berkolerasi maka variabel ini tifak orthogonal. Salah satu metode untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat angka variance Inflation Factor (VIF), jika 0,1< VIF < 10 maka tidak terjadi multikolinieritas.
4.6.3        Uji Heteroskedasitas
Uji Heteroskedasitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain.jika varians residual dari satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap maka disebut homoskedasitas dan jika varians tersebut tetap maka disebut homoskedasitas dan jika varians tersebut berbeda maka disebut homoskedasitas.
4.6.4        Uji Linieritas
Uji linieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linier atau tidak secara signifikan.Uji ini biasanya digunakan sebagai persyaratan dalam analisis kolerasi atau regresi linier. Pengujian pada SPSS dengan menggunakan Test for Linearity dengan pada taraf signifikansi 0,05. Dua variabel dikatakan mempunyai hubungan linier bila signifikasi (Linearity) kurang dari 0,05.
4.7      Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linier antara dua atau lebih variabel independen (X1,X2) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio.
Persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :
Y = a + biXi + b2X2 +e
Keterangan :
Y’     = Variabel dependen (nilai yang diprediksikan)
X1 dan X2   = Variabel independen
a       = Konstanta (nilai Y’ apabila X1,X2....X3=0)
   b = Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan)
4.7.1   Uji t (Pengujian hepotesis secara parsial)
Uji t adalah statistik yang digunakan untuk menguji keberadaan atau kepalsuan hipotesis nol. Uji t pertama kali dikembangkan oleh William Seely Gosset pada 1915. Awalnya ia menggunakan nama samaran Student, dan huruf t yang terdapat dalam istilah Uji “t” dari huruf terakir nama beliau. Uji t disebut juga dengan nama Student t.
Uji t digunakan untuk signifikansi hubungan antara variable X dan variable Y, apakah variable X1, X2 benar-benar berpengaruh terhadap variable Y
a.       Menentukan formulasi hipotesis
Ho : bi =0 artinya, variable-variable bebas (X1 dan X2) secara parsial tidak mempunya pengaruh yang signifikan terhadap variable terikat (Y)
H1 : bi ≠ 0 artinya, variable bebas (X1) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variable terikat (Y)
H2 : bi ≠ 0 artinya, variable bebas (X2) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variable terikat (Y)
b.      Menentukan tingkat signifikansi 95% ( α = 0.05)
c.       Menentukan signifikansi
1.      Dengan membandingkan nilai thitung dengan ttabel apabila thitung >ttabel maka Ho diterima dan H1, H2 ditolak.
apabila thitung >ttabel maka Ho ditolak dan H1, H2 diterima.
2.      Dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi
Apabila nilai signifikansi≤ 0.05, maka Ho ditolak dan H1, H2 diterima.
Apabila nilai signifikansi≤ 0.05, maka Ho diterima  dan H1, H2 ditolak.               
4.7.2        Uji F (Pengujian hipotesis secara simultan)
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabe indepanden secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah semua variable bebas dalam penelitian mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variable terkait.
a.       Menentukan formulasi hipotesis
Ho : bi = 0 artinya, semua variable bebas (X) secara simultan tidak mempunya pengaruh yang signifikan terhadap variable terikat (Y)
H1 : bi ≠ 0 artinya, semua variable bebas (X) secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variable terikat (Y)
b.      Menentukan tingkat signifikansi 95% ( α = 0.05)
c.       Menentukan signifikansi
1.      Dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel apabila Fhitung >Ftabel maka Ho diterima dan H1, H2 ditolak.
apabila Fhitung >Ftabel maka Ho ditolak dan H1, H2 diterima.
2.      Dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi
Apabila nilai signifikansi≤ 0.05, maka Ho ditolak dan H1 diterima.
Apabila nilai signifikansi≤ 0.05, maka Ho diterima  dan H1 ditolak.
4.7.3        Uji Koefisien Determinan R²
Koefisien korelasi yang dikuadratkan (R²) disebut koefisien determinasi. Koefisien determinasi menggambarkan besarnya kemampuan variabel X menjelaskan variabel Y sebagai variabel terikat. Koefisien determinasi bervariasi antara nol sampai 1. Bila model regresi diaplikasikan dan diestimasikan dengan baik, makin tinggi nilai R², makin besar kekuatan penjelas dari persamaan regresi, dengan demikian prediksi dari variabel criterion semakin baik (Supriyanto&Maharani, 2013:65). Dalam uji regresi linear berganda ini dianalisis pula besarnya koefisien determinasi (R²). Keseluruhan R² digunakan untuk mengukur ketepatan yang paling baik dari analisis linear berganda. Jika R² yang diperoleh mendekati 1 (satu) maka dapat dikatakan semakin kuat model tersebut dapat menerangkan variabel bebas terhadap variabel terikat. Sebaliknya jika R² mendekati 0 (nol) maka semakin lemah variabel-variabel bebas menerangkan variabel terikat. Selain melakukan pembuktian dengan uji F dan uji t, perlu juga dicari besarnya koefisien determinan (R²) parsialnya untuk masing-masing variabel bebas. Menghitung R² digunakan untuk mengetahui sejauh mana sumbangan dari masing-masing variabel bebas, jika variabel lainnya konstan terhadap variabel terikat. Semakin besar nilai R² maka semakin besar variasi sumbangannya terhadap variabel terikat.
 










DAFTAR PUSTAKA

Rachmawati, Ike Kusdyah,2008  . “ Manajemen Sumber Daya Manusia” , Yogyakarta ANDI Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, 2008”.
Agung Setiawan. 2013. “Pengaruh Disiplin Kerja Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada Rumah Sakit Umum Daerah Kanjuruan Malang”. Jurnal Ilmu Manajemen. Vol 1, No 4; Juli 2013
Alex S Nitisemito, 2008. “Manajemen Personalia (Manajemen Sumber Daya Manusia” Edisi Kelima, Cetakan Keempat belas, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Anwar Prabu Mangkunegara. 2005. “Sumber Daya Manusia perusahaan”  Remaja Rosdakarya: Bandung
Ardana. 2012. “Manajemen Sumber Daya Manusia” Yogyakarta : Graha Ilmu
Aritonang, Keke.T. 2005. “Kompensasi Kerja, Disiplin Kerja Guru Dan Kinerja Gutu SMP Kristen BPK PENABUR” Jurnal Pendidikan Penabur. No 4. Th IV. Jakarta
Asmiarsih T. 2006. “Pengaruh Pengawasan Terhadap Disiplin Kerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes” [Skripsi]. Semarang : Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang.
Bacal, Robert. 2001. “Performance Management” Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Cahyono, Budhi dan Suharto, 2005, “pengaruh Budaya Organisasi, Kepemimpinan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Sumber Daya Manusia Di Sekretariat DPRD Propinsi Jawa Tengah” jurnal, JRBI Vol. 1, Yogyakarta
Hariandja, Marihot T.E, 2002. “Manajemen Sumber Daya Manusia” Jakarta: Grasindo.
Hasibuan, Malayu S.P. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia”. Jakarta: Bumi Aksara
Hughes, Ginnet, dan Curphy. 2007. “Leadership: Enhancing the Lessons of Experiencie, 7th ed” (terjemahan). Jakarta: Salemba Humanika.
Kuncoro, Mudrajad. 2003. “Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi” Jakarta : Erlangga
Mathis, Robert L dan Jackson, John H, 2004. “Manajemen Sumber Daya Manusia” Buku ke dua. Salemba Empat. Jakarta
Nasution. 2003. “Metode Research” Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Rivai, Veithzal dan Basri. 2005. “Performance Appraisal: Sistem Yang Tepat Untuk Menilai Kinerja Karyawan Dan Meningkatkan Daya Saing Perusahaan” Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Robbins, Stephen P, 2003. “Perilaku Organisasi, Jilid 2” PT. Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta.
Sastrohadiwiryo, Siswanto. (2001). “Manajemen Tenaga Kerja Indonesia, Pendekatan Administratif dan Operasional” Jakarta: PT. Bumi Aksara
Setiawan, Budi, dan Waridin. 2006. “Pengaruh Disiplin Kerja Karyawan dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja di Divisi Radiologi RSUP Dokter Kariadi Semarang” Vol. 2 No. 2, Hal. 181-250.
Siagian, Sondang P, 2001, “Manajemen Sumber Daya Manusia” cetakan Ketujuh, Jakarta: Radar Jaya Offset
Simamora, Henry, 2004, “Manajemen Sumber Daya Manusia” Edisi Ketiga, Cetakan Pertama, Bagian Penerbitan STIE YKPN, Yogyakarta.
Sinungan, Muchdarsyah. (2003). “Produktivitas Apa dan Bagaimana” Bandung: Bumi Aksara.
Sudarmayanti. 2001. “Sumber Daya Manusia dan Produktifitas kerja”. Mandar Maju, Bandung.
Sudarmayanti. 2001. “Sumber Daya Manusia dan Produktifitas kerja”. Mandar Maju, Bandung.
Sudarmayanti. 2001. “Sumber Daya Manusia dan Produktifitas kerja”. Mandar Maju, Bandung.
Sudarmayanti. 2001. “Sumber Daya Manusia dan Produktifitas kerja”. Mandar Maju, Bandung.
Sugiyono. 2011. “Metode Penelitian Bisnis”. Alfabeta, Bandung.
Wirawan. (2009). “Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia Teori Aplikasi dan Penelitian” Jakarta. Penerbit: Salemba Empat
Yakub. 2012. Pengantar Sistem Informasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Latest